Ditengah Wabah Pandemi Covid 19, Bisnis Pembesaran Jangkrik Alam Lebih Menjanjikan

257
AGUNG FEAT PUTRANYA. Saat memanen jangkrik hasil usaha barunya

Dampak terisolasinya masyarakat yang tidak pasti kapan berakhirnya wabah pandemi virus corona (covid 19), membuat banyak warga masyarakat yang berdiam diri di rumahnya masing-masing. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan, mau gak mau putar otak untuk memenuhi kebutuhan dapur tetap mengepul. Lantas bisnis apa yang bisa menghasilkan uang tapi tetap di rumah, jawabannya bisnis pembesaran jangkrik alam.

Agung Sariadi salah satu petani jangkrik alam (cliring) yang berhasil menggeluti budidaya pembesaran jangkrik alam asal Candi Lontar Surabaya. Terbukti panen pertama tembus 30 KG dengan 6 kotak (box) selama 35 hari.  Saat ini lagi proses pembesaran kedua. Setidaknya dengan bisnis barunya ini selain menambah pendapatan ekonomi keluarga juga mengurangi pengeluaran untuk membeli jangkrik buat burung-burungnya yang mayoritas pemakan jangkrik.

Advertisement

Bahkan menariknya bisnis barunya mendapat support dari keluarga, khususnya istrinya. Tak pelak, dengan usaha barunya ini menambah kesibukan istrinya, lantaran suami Esthi Setyo Winanti masih terikat aktif di salah satu perusahaan di Surabaya. “Alhamdulillah dengan bisnis baru jangkrik ini cukup menjanjikan, selain peran istri punya kesibukan di rumah bersama-sama anak-anak juga kebutuhan pakan seperti jangkrik buat burung-burung saya tidak lagi mengeluarkan biaya cukup di rumah saja, bahkan kedepannya saya akan mengembangkan bisnis breeding muraibatu,” papar ayah tiga putra putri ini pada avesnews yang bertamu ke kediamannya.

Namun dibalik bisnis pembesaran jangkrik alam ini, Agung sebelumnya sudah digandeng salah satu peternak jangkrik alam asal Jogjakarta. Bisa dibilang pria pemerhati muraibatu dan cucak ijo ini diajak peternak jangkrik bernama Tumin sebagai partnernya dalam berinvestasi yang dirintis sejak 2017 silam. Bahkan saat ini sekitar 23 petani jangkrik dengan nama Cliring Team yang menyebar dari beberapa kota di Jawa Timur diantaranya Jombang, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Mojokerto dan Jember.

Singkat cerita dari suksesnya bisnis jangkrik tersebut, pria nomor dua dijajaran pengurus komunitas Cucak Ijo Arek Surabaya (CIAS) siap meningkatkan usaha barunya lantaran kebutuhan pasar yang masih jauh dari produksi. “Saat ini permintaan pasar sekitar 20 Kg per harinya sementara volume produksi masih jauh dari cukup, sehingga ke depannya saya siap menambah kotak pembesaran lagi, setidaknya volume produksi bisa meningkat dan memenuhi permintaan pasar,” ujar Agung.

JANGKRIK ALAM. Siap memenuhi pasar

Bisnis pembesaran jangkrik alam bagi saya prospeknya masih bagus, karena efek virus corona yang melanda negeri ini tidak mengurangi permintaan pasar, apalagi kebutuhan jangkrik jenis alam selain dicari sebagian besar penghobi papan atas juga digandrungi para breeder murai maupun jenis burung lain, karena jangkrik alam kualitas proteinnya lebih tinggi ketimbang jangkrik biasa, tambahnya dalam obrolan penutup.