Jelang 1st Anniversary SKN Gelar Tumpengan, Juri Dituntut Lebih Fokus, Cermat dan Bersinergi

36
LOKASI LOMBA. 1st Anniversary SKN di Puspa Agro, Jemundo Sidoarjo

Sehari (Sabtu) menjelang 1 tahun lahirnya komunitas murai bernama Seduluran Kicau Nusantara (SKN), gelar tasyakuran di tengah-tengah gantangan, Area Puspa Agro, Jemundo, Krian Sidoarjo yang bakal sebagai saksi bisu dalam suatu gelaran anniversary SKN besok Minggu (13/2/22). Gelar tumpengan yang terbilang sederhana dan dihadiri ketua SKN beserta pengurus kabinet SKN komplit dengan tim jurinya.  Sehabis menikmati tumpengan, pengurus kabinet SKN yang dipimpin langsung ketua SKN, Kemas mengajak para tim juri untuk berkumpul dalam pemantapan serta persamaan visi penjurian. “Tujuan kami mengumpulkan semua juri SKN agar nantinya seluruh juri yang bertugas besok bisa menyatukan visi sistem penjurian dengan fokus, cermat serta bersinergi dalam bekerja di lapangan,” tegas Kemas.

Menginjak pada pokok masalah, yang diawali oleh Sekjen SKN H. Wilson, mengingatkan para juri untuk kerja maksimal dan sesuai fakta lapangan tanpa melihat siapa pemilik burung tersebut. Bahkan, pria pemilik gantangan SHR tersebut memberikan pandangan kalau pun juri tersebut kenal dengan pemiliknya, diharapkan juri tersebut tidak perlu memaksakan diri untuk mengajukannya bila memang burung tersebut tidak layak untuk diajukan, agar seluruh fakta di lapangan bisa mematahkan semua kecurigaan peserta selama ini,” pesan Wilson panjang lebar.

Advertisement
PANITIA SKN. Selamat datang peserta 1st anniversary SKN

Pembicaran selanjutnya, Kemas mengharapkan perfomence (baca perfom) masing-masing juri baik dari awal hingga akhir gelaran tetap stabil, karena selama ini kami amati mendekati di penghujung gelaran perfom juri rata-rata menurun. “Jujur, saya sebagai pemain tidak mau tahu, karena yang diharapkan seluruh juri bertugas harus perfom hingga kelas terakhir, walaupun juri menguasai materi pakem penilaian tapi perform kurang fight akan dinilai tidak stabil, ibarat penyanyi liriknya bagus tapi shownya penyanyi kurang menarik membuat penonton kurang tertarik, bahkan hampir seluruh peserta tahu mana juri yang berkualitas maupun tidak bila perfom juri kurang bagus,“ ungkap Kemas dalam wejangannya.

Bahkan dialog seiring dengan waktu kian hidup, lantaran beberapa juri yang hadir menceritakan pengalamannya di lapangan, seperti yang disampaikan juri SMM, Jos asal Pasuruan, kalau dalam pantauan awal menemukan burung mewah, tapi di saat pantauan akhir burung tersebut diam, menurut Jos jangan terburu-buru langsung diputuskan untuk di eliminasi. “Karena dalam pantauan bebas, dua langkah meninggalkan burung tersebut bisa saja burung tersebut kerja bagus dan bisa dipantau dari kejauhan, kecuali bila pertimbangannya ada burung yang lebih mewah, baru burung yang tadi bisa di eliminasi,” ujar Jos.

Sementara Juri SMM Andik, meluruskan beberapa hal selama ini terjadi terhadap juri, dan Andik berharap kalau bisa bukan hanya juri yang memahami permasalahan penilaian burung tapi seluruh pengurus member maupun rekom wajib tahu, karena berbicara pakem semua tempat dan EO pasti sama diantaranya mencari burung bagus yang dicari durasi kerja, irama lagu, volume dan lain sebagainya yang merupakan satu kesatuan. “Tapi beda dengan sistem, per blok apa yang dicari, jalannya gimana, waktunya, saat waktu bebas apa yang dicari, itu sistem namanya,” papar Andik. Bahkan Andik mengaku kalau peserta kurang paham sistem penilaian, bila burungnya nembak meminta juri untuk memantau dan bila ada burung ditemui ada kesalahan terpalnya naik karena angin, langsung ditinggalkan. “Hal ini, jangan langsung ditinggalkan karena waktu penilaian 2 menit dalam satu blok ada 6 burung dan bisa menilai yang lain, karena kita bukan mencari burung terbaik di blok tapi di seluruh blok,” saran juri senior dalam forum.

Disesi lain, Juri SKN Aan menambahkan kalau banyak yang paham soal burung kualitas tapi tidak paham kualitas itu yang gimana, kadang terpaku burung nembak. Menurut Aan, burung nembak ada dua kategori, kalau burung nembak ditunjang dengan perfomence pasti akan ditemukan olahan lagu sebelum atau sesudah nembak, beda dengan burung yang perfomnya kurang, tiba-tiba mukul panjang pasti akan terjadi beda pandangan. “Burung yang perfom akan mengeluarkan tonjolan dan itu menurut saya burung yang istimewa, beda dengan burung yang habis nembak tidak (neken) perfom walaupun pukulan panjang-panjang, itu yang harus dibedakan antara burung kualitas dan tidak, karena seringkali banyak temen” juri dalam memantau di lapangan terpaku pada burung tembakan,” jelas Ann mantap.

Dipenghujung pertemuan, Kemas berharap kepada pemain untuk berjiwa besar, meski kerja juri sudah maksimal. “Karena tugas kami sebagai pengurus untuk menghimbau kepada seluruh peserta untuk dewasa bila ada kesalahan kita rembuk bareng, tapi semua itu harus diimbangi dengan perfom juri yang maksimal, sehingga ada titik temu permasalahannya,” pesan Kemas di obrolan penutup.